Minggu, 26 Januari 2020

Naturalisasi Vs Normalisasi, Apa Sih Beda Nya ?


Naturalisasi Vs Normalisasi, Apa Sih Beda Nya ?

Ada dua istilah yang belakangan ramai dibicarakan netizen, paska banjir yang menyerang Jakarta di awal tahun 2020, istilah itu adalah Naturalisasi dan Normalisasi. Mulanya, menteri Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadi Muljono menyebutkan bahwa normalisasi kali ciliwung secara menyeluruh adalah langkah untuk mencegah banjir di Jakarta.

Berbeda dengan Pak menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat, Gubernur DKI Jakarta, Anies baswedan lebih memilih untuk melakukan langkah naturalisasi sebagai jalan keluar untuk mengurangi banjir di DKI Jakarta. Memang apa sih beda nya ?  

Perbedaan Naturalisasi Dan Normalisasi
Naturalisasi adalah upaya mengembalikan bentuk sungai ke kondisi alami, melintang berkelok-kelok, mengeruk kedalaman sungai. Sedangkan normalisasi itu di normalkan, dilakukan penghijauan di sekitar sungai dengan menanam tanaman ekologis alami, sehingga bisa mencegah erosi dan meredam banjir. Namun Pemprov DKI merapikan bantaran sungai dengan pembetonan.

Jika ditelaah lebih jauh, kedua upaya untuk meminimalisir banjir ini seharusnya bisa saling melengkapi. Viral nya istilah naturalisasi dan normalisasi juga memancing para pengamat untuk memberikan pendapat mereka di media masa.

Pandangan Pengamat dan Ahli
Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga buka suara atas konsep normalisasi yang di realisasikan pemprov DKI, “ Tujuan normalisasi ini, mengembalikan bentuk sungai ke kondisi dan bentuk awal, namun yang telah dilakukan oleh pemprov DKI merupakan hal yang keliru. Salahnya itu sungai justru cenderung diluruskan dan di beton”

Menurut Bambang Hidayah, Kepala BBWS Ciliwung, normalisasi adalah upaya meningkatkan kapasitas sungai agar bisa menampung lebih banyak debit air, khususnya di saat banjir.

Sekretaris Dinas Sumber Daya Air, Rodia Renaningrum juga mengungkapkan kalau naturalisasi seharusnya menggunakan batu kali atau beronjong, agar biota air dapat hidup dan bisa mengembalikan ekosistem sungai.

Rachmat Jayadi, ahli hydrologi dari UGM, mengatakan normalisasi itu adalah pengertian hydrolik, tujuannya adalah untuk mengembalikan kemampuan sungai dalam hal mengalirkan air sungai. Bahkan beliau menyebutkan ide artifisial, yaitu melicinkan dinding sungai agar alirannya menjadi cepat.

Beda Tapi Sama
Walaupun secara pengertian antara naturalisasi dan normalisasi memiliki perbedaan, namun pada dasarnya kedua konsep ini memiliki kesamaan, yaitu mengembalikan fungsi sungai sebagaimana mestinya, dimana pemukiman di sekitaran sungai harus di relokasi, tanpa relokasi keduanya tidak akan maksimal dalam upaya mencegah banjir. Ya relokasi adalah persamaan dari kedua konsep naturalisasi dan normalisasi.


Naturalisasi Dan Normalisasi Seharusnya Bisa Dipadukan, Bukan Diperdebatkan
Sebenarnya dua program pengembalian fungsi sungai sebagai salah satu upaya mengatasi banjir ini baiknya dipadukan bukan nya malah diperdebatkan, bantaran sungai di rapikan dengan beton dapat dipadukan dengan penghijauan. Ketika hujan turun tanaman di sekitar sungai akan menghambat laju aliran air sungai.

Adapun mengapa kedua hal ini sulit dipersatukan itu semua hanya karena salah satu program merupakan gagasan kepala daerah yang lama, hal ini sering terjadi, terutama di daerah sepopuler DKI Jakarta, sehingga program pemerintah seolah tidak berkesinambungan. Jadi di sini seharusnya gengsi dan ego bisa  dikesampingkan demi kebaikan bersama.

Apa Yang Penting Bagi Masyarakat
Jika salah satu pihak berpendapat bahwa naturalisasi adalah cara terbaik untuk mengurangi banjir, maka normalisasi punya peran yang sama. Kenyataan nya masyarakat tidak terlalu peduli dengan perbedaan konsep ini, mereka berharap baik Pemprov DKI maupun Kementerian PUPR dapat bekerja sama. Bagi masyarakat, yang penting adalah mereka bisa terhindar dari bencana banjir yang melanda setiap tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact us

Nama

Email *

Pesan *