Selasa, 26 Mei 2020


Perkembangan Finansial Syariah, Ubah Kesadaran Masyarakat Tentang Proteksi Halal

Selama dua dekade keuangan syariah semakin melaju ke angka positif, artinya pertumbuhannya bertambah cepat. Diawali dengan perkembangan perbankan syariah pada tahun 90an, kemudian disusul oleh beragam pembiayaan syariah. Seiring berjalannya waktu keuangan syariah kian bertumbuh, sebab peta potensi Indonesia sangat besar. Populasi Muslim menjadikan produk syariah diminati, baik sistem perbankan atau non perbankan #AwaliDenganKebaikan.

Pegerakan Keuangan Syariah ke Angka Positif
Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, sehingga membuatnya cukup untuk mengembangkan syariah. Pemerintah menjadikan keuangan syariah sebagai pioner utama untuk perkenomian Indonesia. Meskipun pertumbuhan industri finansial syariah sempat melambat pada tahun 2013-2015, tetapi tidak membuatnya tumbang. Justru semakin bangkit dengan kehadiran beberapa pembiayaan syariah yang menguntungkan.

Dalam perekembangannya keuangan syariah di Indonesia lebih fokus kepada perbankan, investasi, dan instrumen keuangan syariah. Hal ini ditunjukkan dengan kehadiran pembiayaan seperti asuransi dan sukuk. Beberapa perusahaan asuransi mulai berdiri dan menawarkan produk dengan basis syariat Islam. Sebenarnya kehadiran asuransi dengan konsep syariah sudah ada sejak zaman Rasulullah, hanya saja sempat tenggelam sangat lama.

Kebangkitan keuangan syariah membuat beberapa instrumen bersuka cita, pasalnya tidak ada unsur riba di dalamnya. Semua instrumen yang bergerak mengandung prinsip syariat Islam yang tidak perlu diragukan kehalalannya. OJK merilis data bahwa IKNB Syariah memberikan kontribusi sebesar 9,61 persen, dengan total nilai 85,48 triliun rupiah. Artinya masyarakat semakin menyadari bahwa keuangan syariah dibutuhkan, di tengah perekonomian yang pelik.

Produk Proteksi yang Selalu Ditunggu
Amir adalah seorang dosen yang mendalami tentang perkembangan Ekonomi Islam. Beliau belajar tentang konsep syariah, dalam beberapa instrumen keuangan. Memang benar bahwa riba dalam asuransi konvensional, tidak mendatangkan maslahah dan falah. Bukannya untung justru membuat nasabah semakin rugi, karena terkadang klaim tidak dicairkan sesuai kesepakatan. Padahal pembayaran premi sudah dilakukan secara rutin.

Dalam sesi diskusinya Amir menceritakan sosok adiknya bernama Akbar, dimana Ia berprofesi sebagai dokter. Akbar tidak pernah mempercayai apa yang selama ini dikatakan oleh sang kakak, tentang produk asuransi konvensional yang Ia ikuti. Hingga suatu hari klaim yang diajukan oleh Akbar tidak dicairkan, sebagaimana yang tertulis dalam polis. Pada saat Ia hendak mencairkan biaya perawatan rumah sakit sang anak, dan proses klaim sangat lama.

Karena merasa kecewa Akbar menutup polis asuransi yang Ia miliki, kemudian berdiskusi dengan kakaknya. Amir menyarankan agar Akbar mengambil produk asuransi syariah jika ingin melakukan proteksi terhadap keluarganya. Produknya menekankan konsep sharing of risk diamana kerugian ditanggung bersama, dan tidak membebani salah satu pihak. Selain itu nasabah hanya perlu membayar biaya kontribusi, sesuai dengan plafon produk yang dipilih.

Jika suatu hari terjadi resiko kerugian produk asuransi akan membayarkan klaim, dengan jumlah persis seperti nilai kontribusi. Tidak ada pembagian klaim berapa persen untuk nasabah dan perusahaan, disini perusahaan asuransi hanya berperan sebagai pengelola dana. Selain itu Akbar merasakan ketenangan jiwa karena bisa saling menolong antar nasabah. Tidak ada siapa yang untung dan dirugikan disini karena konsepnya sangat adil, dan merata.

Perkembangan keuangan syariah turut menumbuhkan beberapa pembiayaan syariah. Salah satunya kehadiran asuransi syariah Indonesia, berpegang pada prinsip non riba. Produknya membantu masyarakat untuk alokasikan pendapatan, dengan cara menabung. Jadi tidak ada istilahnya membuang pendapatan dengan sia-sia, tanpa menghasilkan suatu manfaat. Dengan konsep sharing of risk jadi tidak ada pihak yang dirugikan di asuransi ini.
Allianz Blog Contest

Contact us

Nama

Email *

Pesan *